10.7.12

Payphone

I'm at payphone try to call home....all of my change I spend on you....


Beberapa minggu terakhir lirik ini terngiang-ngiang di telinga. Bukan hanya karena suara merdu Mas Adam Levine aja sih yang bikin lagunya nempel.Tapi juga pikiran: masih ada nggak sih yang pakai telepon koin macam di video klip lagu Payphone-nya Maroon 5 ini? Kalau saya, terakhir pakai telepon sekitar tahun 1998-99. Waktu itu masih Rp100 sekali telepon. Durasinya berapa ya? Lupa :D

Tapi, ada satu masa yang berkesan buat saya tentang telepon koin ini. Bukan ngumpulin kartu telepon, bukan   buat telepon gebetan (saya masih lugu waktu itu-sampai sekarang sih :p), tapi saya jadi ingat salah satu (mantan) anak buah Bapak saya. Sekitar tahun 1990-an, saya masih SD kelas 1 atau 2, waktu itu daerah perempatan ringroad barat (Jl. Godean) belum  ada ringroad. Masih jalan aspal biasa. Di pinggir jalan itu adalah kantor kelurahan. Nah, di kantor kelurahan itulah terpasang sebuah telepon koin. Sebenarnya sih, telepon koin ini untuk sarana komunikasi warga desa. Entah kenapa, banyak yang menyalahgunakan sarana ini.Salah satunya ya anak buah Bapak saya itu. Namanya Mas Raharjo. Umurnya masih belasan tahun, putus sekolah, dan bekerja di tempat Bapak saya membuat bakpia. 

Kalau waktu makan siang, dia suka menghilang, sambil membawa segepok koin Rp50 rupiah. Kenapa saya tahu? Karena saya diajaknya --" Diajaknya saya ke kantor kelurahan itu. Disuruhnya saya menunggu, "Tunggu sini," katanya. Dan saya menunggu di bawah telepon koin itu, sambil jongkok. Kemudian, Mas Raharjo memasukkan satu koin ke dalam telepon, memencet beberapa nomor, setelah itu dia berbicara dengan suara di seberang sana. Kira-kira begini, "Hihihi...iya...iya...buat Mbak Tutik, buat Eni,sama buat Sri di Demakijo, ucapannya selamat siang aja, selamat makan. hihihi...lagunya....apa ya? Minta lagunya Nike Ardila aja, hihihi...." Saya tidak mendengar suara di ujung sana. Agak lama juga Mas Raharjo telepon menggunakan telepon koin itu. Karena beberapa koin yang ia masukkan. Setelah agak lama, Mas Raharjo mengajak pulang. Setibanya di rumah, dia langsung menuju radio transistor teman setianya mencetak bakpia. Dia letakkan radio itu di depan meja tempat membuat bakpia. Tak berapa lama, dari radio itu terdengar suara si penyiar radio, "Buat Mbak Tutik, Mbak Eni dan Mbak Sri, dapat ucapan selamat siang dari Mas Raharjo di Demakijo. Ucapannya: selamat siang, selamat makan." Dan Mas Raharjo pun senyum-senyum sendiri sambil mencetak bakpia. Owalaaaahhh...Mas Raharjo...Mas Raharjo....

(gambar dari sini) dan sama sekali bukan gambaran Mas Raharjo bhahak!

1 comment:

maya said...

bhahakkk.... ada jg cerita lu yg begini. jd inget cewek (buta) yg suka nongkrong n telpon berjam2 di telepon umum. neleponnya ya ke radio, krm lagu n kirim2 salam gitu. nggak jauh bedalah sm cerita lu yg ini.
astaga... pdhl itu udah puluhan tahun yg lalu, tp kalo ketemu skr aku jg masih inget muka si cewek ntu.
eh iya, krn doi buta, dia sll ditemanin anak cewek. entah anaknya, entah adiknya.