18.4.11

Yakin itu Tuhan, Bukan Egoisme Diri?

“Saya hanya dikirimi e-mail.” Begitulah sanggahan sang anggota dewan yang terhormat ketika tertangkap kamera wartawan sedang mengakses gambar tak senonoh melalui perangkat digitalnya saat sidang paripurna.  Publik heboh karena anggota dewan tersebut berasal dari partai yang selama ini dikenal sebagai partai agama yang cenderung “keras” (lihat beritanya di sini).  Meskipun fakta yang terlihat dari foto-foto tersebut jelas bahwa anggota dewan tersebut melihatnya dari folder yang sudah tersimpan dalam perangkat digitalnya, sanggahan tetap dilontarkannya. Sanggahan tersebut bukan hanya datang dari dirinya, melainkan juga teman sejawatnya.
Kalau tingkah laku anggota dewan yang maaf, “menjijikkan” sih sudah tidak asing lagi. Akan tetapi, satu hal yang membuat saya tergerak untuk menulis ini: kemunafikan! Ya, sungguh, saya sudah tidak tahan, cenderung jijik, dengan tingkah mereka yang sibuk memoles diri agar terlihat alim, tapi ternyata  melakukan hal-hal yang disebut “dosa” oleh mereka.
Mereka menciptakan “kipas angin” yang besar (agama) untuk menaikkan mereka ke tempat yang tinggi. Namun, ketika mereka jatuh terhempas karena angina tersebut, mereka sibuk mencari celah. Lagi-lagi dengan menggunakan dalil-dalil agama untuk membenarkan kemunafikannya tersebut. Misalnya saja, dengan menyebut bahwa perbuatannya tersebut bukanlah suatu dosa besar, dapat dimaafkan, Tuhanlah yang menggerakkannya, tidak ada niat di hatinya untuk melakukan hal tersebut, atau Tuhan punya rencana dan menentukan.
Begini kata-kata anggota dewan tersebut yang dapat saya kutipn dari hasil wawancaranya di sebuah stasiun TV berita (TV ONE, Bukan Bincang Biasa, Sabtu, 16 April 2011, pukul 19.00), “ Tuhan yang punya rencana, Tuhan yang menentukan. Tidak ada niat saya untuk melakukan hal itu.” Dang! Enak banget ya ngomong kalau semuanya berjalan atas kehendak Tuhan. Seolah menimpakan semua kesalahannya kepada Tuhan. Dan….yg lebih menjijikkan, dia menggunakan “fasilitas” Tuhan yang maha-pengampun untuk membersihkan dirinya dari dosa-dosa tersebut. Cuci tangan. Ya, inilah yang disebut dengan hipokrit. Di muka kelihatan alim, ternyata di belakangnya melakukan hal-hal yang oleh diri dan kelompoknya disebut “dosa”. Atau, lihat ketika teman segolongannya membela dengan mengatakan bahwa perbuatan tersebut bukanlah dosa besar (lihat di sini). FYI, bukan sekali ini saja si teman mengatakan “dosa besar” dan “dosa kecil”. Ketika si teman ini kepergok bersalaman tangan dengan Ibu Presiden Amerika, kemudian public menyerangnya karena bapak ini terkenal tidak mau bersalaman tangan dengan lawan jenis, si bapak ini juga mengatakan bahwa hal tersebut bukanlah “dosa besar” (link). Jelas sudah bahwa Tuhan bagi bapak-bapak tersebut adalah bentuk egoisme diri. Semua kebaikan Tuhan menjadi kebaikannya, sedangkan kejelekannya menjadi milik Tuhan.
Belum hilang berita hebohnya anggota dewan tersebut, muncul berita pengeboman di Polsek Cirebon. Menurut polisi, kemungkinan pelakunya berasal dari kelompok agama radikal. Memang kedua berita tersebut tidak berhubungan, tapi saya mencoba mengaitkannya. Begini, ketika para elite agama di atas sana sibuk memoles diri dengan “make up” agama demi kepentingan diri dan kelompoknya, maka inilah yang terjadi pada rakyat: pemuda pengangguran yang gampang “dicuci otaknya” dengan paham-paham radikalisme dangkal selalu tersedia “stok”-nya.
Saya tidak bermaksud mendeskritkan agama tertentu atau memojokkan aliran agama tertentu (untuk itulah, saya berusaha tidak menggunakan istilah-istilah dalam agama, bahkan penyebutan Tuhan untuk agama tertentu). Akan tetapi, saya rindu ketika agama tidak dijadikan topeng demi kepentingan diri dan kelompok tertentu. Agama hanya menjadi sarana kita menuju pada kebesaran dan keagungan Tuhan; agama hanya menjadi urusan pribadi kita dengan-Nya, yang Maha-kuasa, bukan menjadi urusan public atau negara. Mungkin tidak terdengar alim di mata umum, tapi biarlah asal tidak menjadi munafik :)

6 comments:

maya said...

saya sih males ngurusin beginian. hihihi... ibaratnya klo liat mrka macam hrs ntn/baca/dgrin berita seputar jupe - depe. so, gw pass aja dah =))

Meita Sandra said...

risih aja sih sm kelakuan mereka ini, bukan nggota dewannya, tp hipokritnya itu :D tengkyu udah mampir &komen ;)

maya said...

hoho.. tp bukan mslh kok. mgk km emang lbh tertarik ke hal politik. siipp dh. keep posting yo :)

Meita Sandra said...

yoh, nuwun :)

Nufri L Sang Nila said...

semua orang harus tahu...betapa munafiknya dia...saya rasa kita wajib memberitakan dan menyiarkannya...kalau memang dia yakin dia di fitnah wartawan..tuntut aja wartawannya dengan pencemaran nama baik...gak berani kan... itulah akhirnya dia berlindung dengan kedok ber Tuhan... standar politisi Indonesia...heheee

salam :)

Novieta Christina said...

hahahah ni khasnya mbak meita banget. good for you girl. btw, sincere compliment, ak suka kalimat kamu: "Semua kebaikan Tuhan menjadi kebaikannya, sedangkan kejelekannya menjadi milik Tuhan." (sadar, kdg ak juga terperangkap di situ)