28.6.11

This is My Reason





 

hmm...musim kawin ya ini? *hitung kelopak bungan mawar* banyak teman yg sudah membina rumah tangga. udah mulai kebal dgn pertanyaan "kapan nyusul" atau becandaan yang mengarah ke sana. yeah...I'm 27 and getting married yet. Well...I'm happy for them. Saya bukan orang yang kemudian menjadi hater ketika teman-teman saya menikah, saya tidak akan iri atau kemudian menjauhi mereka. Nggak ada alasan untuk menjauhi mereka. ya...kecuali buat yang rese dan nggak asik :)) Apa ya...mungkin gampang buat mereka untuk memasuki tahap pernikahan, sebuah hubungan yang sangat intim (lahir maupun batin) dengan pasangan. Tapi, bagi saya, sulit untuk menatap bahkan membayangkan sebuah pernikahan. Sulit membuat konsep pernikahan bagi orang yang hidup tanpa konsep pernikahan dalam keluarga seperti saya. "Apakah orangtua saya tidak menikah?" No, no. mereka menikah kok, tapi ya itu tanpa ada konsep bagaimana pernikahan yang sebenarnya. Dari kecil, saya hanya mengetahui mereka orangtua saya, membesarkan saya, mengasuh saya, but I never saw them as a couple. You know what I mean? Di hadapan saya, mereka hanyalah orangtua saya, bukan sebagai pasangan hidup yang saling mendukung atau berkasih-kasih di hadapan anak-anaknya. Saya juga sering bingung jika melihat orangtua teman-teman saya yang mesra. I see love in their eyes. But I didn't see it in my parent. Tidak ada usapan mesra, panggilan sayang, tatapan berbinar-binar kepada pasangan, atau candaan antara mereka. Ya, rumah tangga yang hanya dibangun atas dasar "kewajiban" tentu tidak baik bagi perkembangan jiwa bagi siapa pun yang "tinggal" di dalamnya. Sampai hari ini pun mereka masih bertahan dalam ikatan perkawinan, ikatan kewajiban meskipun setahun ke belakang sudah tidak tinggal seatap. Saya tidak tahu apa yang menyebabkan semua ini, yang jelas mereka sudah seperti ini sejak saya lahir, saya kecil, sampai sekarang. Oke, mungkin akan muncul pertanyaan, "Trus cuma karena alasan itu kamu berat untuk menikah? Bukannya banyak contoh selain pernikahan orangtuamu yang berhasil? Contohlah mereka." Ya, banyak memang contoh di sekitar saya. Sayangnya, banyak juga yang seperti orangtua saya. Atau, mungkin saya bisa melihat dari film, televisi? Tapi, kenyataannya saya melihat lebih banyak pasangan yang berusaha keras mempertahankan rumah tangganya. Dan, saya tidak siap dengan itu. Saya tidak siap menghadapi jika ternyata anak-anak saya bernasib sama seperti saya. Entah hingga kapan. Tapi, sejauh ini, tidak.

4 comments:

Ardhi Widjaya said...

ada juga yang berpikiran, menikah untuk menjaga dari 'pandangan" (baca: nafsu)... jiah... susah ngempet tuh orang rupanja hahaha *with offense*

Meita Sandra said...

repot emang kalo apa2 diserahin sama Tuhan XD

maya said...

semuanya proses dan pilihan. suatu ketika nanti kau juga akan tau tentang mengapa beberpa orgtua begitu ato begini.

Meita Sandra said...

yeah...hopefuly I can understand it, someday... :p