9.11.10

"Ini Panggilan Jiwa Saya..."

Bernama Martono Arbi Wibisono, dilahirkan 49 tahun yang lalu di Yogyakarta.  Dialah paman saya. Akhir-akhir ini kami memang tidak terlalu sering bersua. Kesibukannya menyisir korban dan mendampingi pengungsi Merapi adalah penyebabnya. Beliau memang anggota tim SAR. Sejak 1988 tepatnya. Akrab dengan alam semenjak remaja. Rela berbulan-bulan meninggalkan rumah dan keluarga untuk mendaki gunung-gunung di Indonesia, meninggalkan bangku sekolah demi hobinya yang satu ini, dan membawa boneka kesayangan saya sebagai temannya mendaki gunung.
Malam ketika Merapi menyemburkan awan panasnya, yaitu tanggal 26 Oktober 2010, kami sekeluarga cemas. Bagaimana tidak? Beberapa hari belakang, semenjak status Merapi berubah status menjadi “Awas”, beliau hampir tidak pernah berada di rumah. Apalagi, ketika mendengar Desa Kinahrejo yang biasa menjadi tempatnya singgah jika ke Merapi, disapu oleh awan panas. Kami berusaha menghubungi telepon selulernya. Tidak diangkat. Semua orang panik luar biasa. Tiba-tiba saja, kami melihat sosoknya di televisi, siaran langsung dari Kinahrejo, sedang memeluk salah satu anak Mbah Maridjan, dan berusaha menenangkannya. Fiuhh….lega sudah hati kami semua meskipun pilu melihat betapa hancur dan besarnya jumlah korban jiwa.
Jujur, saya tidak pernah bertanya langsung kepadanya mengapa dia memilih untuk menjadi tim SAR atau mengapa lebih senang menghabiskan waktunya bersama alam. Hingga beberapa hari yang lalu, beliau diwawancarai oleh sebuah televisi swasta. Ditanya mengapa rela bertaruh nyawa untuk menyelamatkan korban yang masih tertinggal di atas sana. Beliau menjawab, “Ini panggilan jiwa saya.” Seketika itu saya sadar. Ya, inilah panggilan jiwanya. Menolong orang yang sedang terkena bencana dan hidup dekat dengan alam.  Kami, keluarganya, seharusnya memahami pilihannya ini. Yah, walaupun masih “ketir-ketir” kalau keadaan bertambah gawat atau kondisi semakin parah. Ini yang bisa kami ucapkan ketika beliau akan bertugas: “Hati-hati ya, Pakdhe…” kata IO dan Kalle,  “Hati-hati ya, Bung…” kata saya :)

4 comments:

maya said...

gk jauh bedalah sm postingan ane bebrp wkt lalu tentang pedagang gas di kusumanegara itu.
nyang penting dr hati.

Meita Sandra said...

yepp iri sakjane aku sm omku iki hehehe begitu banyak yg sudah dilakukan sewaktu dia muda :D

maya said...

lha, emang situ udah tuir ya? klo msh mrsa muda, y mulai lakukan dr skr donk... -.-"

Meita Sandra said...

hehehehe injihh :D